aku dengar bumi berucap
dengan suara serak
bukan dari kitab-kitab
tebal yang diperdebatkan dalam bilik pendingin udara
tapi dari batuk seorang
anak yang berulang terbangun menjelang subuh
mencari paru-parunya
sendiri di antara kabut yang tak lagi suci
| Gambar ilustrasi AI |
halimun itu pernah kami
kenal
dahulu ia turun tipis
di atas sungai
membelai pucuk-pucuk
rumput
mengantar nelayan
pulang dengan doa
yang masih hangat
terucap
kini ia datang membawa
hangus
mengendap di seragam
sekolah
terselinap disela
jendela
menjadi langit abu-abu
yang enggan disebut pagi
anak-anak Riau belajar
mengeja kehilangan
sebelum mereka paham
merangkai takdir
mengenakan penutup
wajah
namun lupa rasa berlari
tanpa sesak
aku tak sedang murka
“aku hanya letih”
lihat hutan-hutan
gambut itu
tubuh tua dikeringkan perlahan
lalu kalian bakar
asap merambah ke atas langit
manusia menghitung kerugian
angka-angka
tanpa sempat mengira
berapa banyak mimpi
anak-anak yang ikut mengabu
aku bumi yang tak meminta insan
menciumi kakiku
kenanglah aku sebagai rumah
tempat berpijak tanpa takut retak
udaranya dihirup tanpa curiga
menyedihkan bukan ketika api
membakar rimba
melainkan manusia terbiasa
melihatnya
kabar asap hanya jeda
di antara pertunjukan singkat
suara terbatuk menggema tak lagi
cukup keras
menggugah nurani orang dewasa
senyap tak ada bisikan
selain patahan-patahan batang
maka di malam kelam ini
jika kau masih mampu menatap langit
membedakan awan dari asap
tak hanya terucap syukur
ingat bahwa terdapat tanah yang
pernah menghitam
ada sungai yang menyimpan pantulan
langit kelabu
anak-anak yang menulis cita-cita
dengan mata pedih dan napas terbatas
kelak mereka bertanya,
"mengapa bumi tak lagi banyak
bercerita?"
kemarikan telingamu dan dengarkan
di sebalik batuk yang tertahan
dalam hutan gambut menghembuskan
bara
bumi masih memanggil nama tak untuk
dihukum
bahwa mencintai tanah air tak cukup
dengan nyanyian
tapi memastikan
anak-anaknya
dapat menghirup takdir
tanpa rasa sesak
Pekanbaru, Juni 2016







0 comments:
Posting Komentar