Mentari Sago berupa Berita, Karya Fiksi dan Non Fiksi berupa Artikel, Esai, Cerpen, Puisi dan lain-lainnya

Mentari Sago

Menulis dan Menginspirasi

Menulislah, dengan itu engkau akan meninggalkan jejak jejak sejarah

Tulisan ketika dibaca dan membawa perubahan padanya, akan bermakna besar akhirnya.

Bermimpilah

Jangan biarkan ucapan orang lain menjatuhkan mimpimu. Bungkam mulut mereka dengan prestasimu.

Pendidikan itu mengubah perilaku

Jangan pernah berhenti belajar, karena hidup tak pernah berhenti mengajarkan.

You don’t have to be great to start. But you have to start to be great.

Kamu tidak harus hebat untuk memulai. Tapi Anda harus mulai menjadi hebat.

Manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi banyak orang

Kebaikan sekecil apapun akan mernakna besar bagi yang merasakannya.

Sabtu, 17 Oktober 2026

Menelisik Potensi yang Tenggelam


oleh Riki Utomi

 

 

 

Pembacaan kita pada sebuah karya fiksi dapat larut bila ada sesuatu yang “kena” dalam hati. Sesuatu itu merupakan hal-hal menarik yang semakin ditelusuri terasa semakin asyik diikuti, maka terasa nikmat kita membacanya. Hal itu tidak lepas dari usaha pengarang dalam menyajikan ceritanya dengan sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh berarti ada usaha keras dalam proses penciptaan karya fiksi. Dapat kita telisik dari bagaimana mengolah tema cerita, mengembangkan jalan cerita, menyusun dialog-dialog tokoh, penggunaan kata yang tepat, merangkai kalimat yang pas dan selaras, dan lain-lainnya. Itu semua tentu memerlukan kerja keras dari pengarang.



Sejauh manakah pengarang mampu membawa ceritanya dengan menarik? Jawaban ini setidaknya dapat dilandaskan pada sejauh usaha keras pengarang dalam aktivitasnya mengarang. Artinya, aktivitas tersebut merupakan proses yang terus berulang sambil terus memperbaiki karya. Faktor lain yang turut menunjang yaitu proses pembacaannya terhadap banyak karya sastra itu sendiri yang dapat menjadi contoh pembelajarannya dalam bercerita (baca: mengarang). Selain itu, pengalamannya sendiri dapat pula menjadi jalan inspiratif pada cerita-ceritanya.

Proses latihan yang intens sarat dilakukan oleh seorang pengarang. Pengarang dapat diilustrasikan sebagai pendekar, yang mana setiap hari harus mempelajari kuda-kuda dalam gerak-gerak dasar, sampai kepada jurus-jurus pamungkas, hingga piawai dalam memainkan segala jurus dan senjata. Maka, seorang pendekar niscaya tidak bisa menguasai keahilan beladirinya tanpa ditunjang dengan latihan itu sendiri yang terus-menerus. Begitulah juga seorang pengarang, yang mana dalam tiap tulisannya (ceritanya) sejatinya harus memiliki perubahan dan perkembangan. Dari tulisan biasa menjadi tulisan yang luar biasa karena pengaruh dari proses latihan yang tiada henti. Latihan yang intens dalam mengarang akan membawa perubahan tentang bagaimana menghasilkan tulisan (cerita) yang memikat, menarik, terukur, bermakna, padu, dan bermanfaat, hingga memiliki kesan kuat oleh pembaca.

Kesan-kesan yang didapatkan oleh pembaca setidaknya beragam karena faktor bagaimana mengapresiasinya. Pembaca akan senang dari cerita tersebut karena adanya kesan kuat dari cerita itu, hingga ia mendapatkan “sesuatu” setelah membaca, dan ia (pembaca) akan merasa menjadi orang berguna karena telah membaca hasil karangan itu. Maka disitulah letak sebuah tulisan yang berhasil oleh pengarang menjadi penting dan berpengaruh. Disitulah pula seseorang dapat dikatakan memiliki kualitas sebagai pengarang dan selain itu berpengaruh bagi orang banyak.

Dapat kita sebutkan pengarang karya fiksi yang malang-melintang di jagat kepenulisan tanah air seperti Habiburrahman el Shirazy melewati karya fiksi teranyarnya Ayat-Ayat Cinta mampu memberikan kesan kuat di hati pembaca. Cerita-ceritanya begitu menggugah dalam memberikan nilai-nilai Islami dalam tiap aktivitas para tokohnya. Begitu pula Andrea Hirata melewati tetralogi Laskar Pelangi yang mampu membangun motivasi besar dalam menggapai cita-cita untuk berhasil dalam mengarungi pendidikan dan tidak menyerah pada keterpurukan ekonomi. Lalu Arafat Nur melewati karya-karyanya yang sarat berlatar konflik di Aceh seperti Lampuki dan Tanah Surga Merah, mencerminkan kesan kemanusiaan yang tinggi bagaimana kita seharusnya menyikapi sebuah kemerdekaan yang berdarah-darah itu untuk kita jaga seutuhnya dan memilikinya dengan penuh rasa syukur. Juga para pengarang lain yang membawa visi-misi masing-masing dalam karya-karyanya akan terasa ada sesuatu yang berharga untuk kita dapatkan. Hal berharga itu menjadi larut ketika kita mengikuti sajian demi sajian dalam cerita yang mereka suguhkan.

Termasuk hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan. Tema-tema budaya memang memiliki kesan tersendiri dalam sebuah karangan fiksi. Setiap pengarang memiliki kesan dalam tiap budayanya. Satu sisi karena memang budaya memiliki karakter yang dapat dikembangkan dalam karya fiksi. Karakter tersebutlah yang mampu menjadi nilai lebih untuk ditampilkan; dibicarakan, ditelusuri, disikapi. Apalagi terkait sesuatu aktivitas budaya yang telah mulai hilang di gerus zaman, akan menjadi lebih bernilai ketika dibawa dalam sebuah karya fiksi.

Bukan hanya karya fiksi dewasa, namun dalam karya fiksi cerita anak, karangan yang berselimutkan budaya menjadi hal yang menggairahkan. Ada tarik-menarik yang apik ketika perihal kebudayaan disuguhi dengan karakter cerita anak. Dalam hal cerita anak, dinilai penting karena dapat lebih mengarah atau terfokuskan kepada anak-anak untuk turut memahami tentang nilai-nilai kebudayaan. Riris K Toha Sarumpaet mengatakan, sastra anak adalah karya yang khas dunia anak, dibaca anak, serta—pada dasarnya—dibimbing orang dewasa. Sastra anak dikemas dengan format yang manarik, menggunakan elemen sastra yang lazim seperti sudut pandang, latar, watak, alur dan konflik, tema, gaya dan nada, serta adanya kejujuran, penulisan yang sangat bersifat langsung, serta informasi yang memperluas wawasan. Karya sastra anak dengan demikian mampu membawa kesan mendalam yang semakin manambah “haus”nya mereka untuk membaca.

Kemudian, Wahidin berpendapat, bahwa sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak yang berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak. Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan pada fakta. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan himbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan.

Mendorong anak untuk gemar membaca memang sudah dirasa begitu penting dan harus. Dorongan itu tidak lain ditunjang tersedianya buku-buku bacaan yang memadai. Buku yang—dalam hal ini—berisi karangan-karangan yang bernilai tinggi. Keunggulannya, sudah tentu anak akan memiliki kesadaran akan suatu hal, hingga kelak dirasa mampu berpikir cerdas, bertindak tepat, berlaku adil, bersikap bijak, dan berbahasa santun. Juga memiliki rasa bangga pada budaya hingga mampu cinta pada tanah air.

Maka setidaknya, beruntunglah bagi mereka yang juga mengarang cerita anak. Mereka, para penulis itu, telah memberikan sumbangsih besar bagi bahan-bahan bacaan yang khusus untuk “dilahap” anak-anak. Mengingat bahwa anak-anak lazimnya belum memiliki daya keterbacaan seperti orang dewasa, tentu karangan cerita anak diharapkan menjembatani penanaman aktivitas membaca sebagai kemampuan dasar yang harus dimiliki. Adanya bahan bacaan cerita anak yang berkualitas akan menunjang kegemaran anak-anak untuk membaca dan menulis dalam geliat literasi.

Setiap pengarang yang menuliskan cerita anak tentu akan mengambil beragam tema dalam pengembangan ceritanya. Berbicara tema, berbicara tentang “selera” selain juga karena sebuah “tuntutan” seperti dalam sebuah perlombaan. Dalam hal ini, tidak sedikit pengarang yang memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya tentang budaya untuk disertakan dalam karangan cerita anak.

Membaca cerita anak yang dikarang oleh salah seorang aktivis literasi Mulyati Umar salah satunya, mampu memberikan pandangan-pandangan di atas. Melewati cerita anak yang dikarangnya, beliau memasukkan nilai-nilai budaya yaitu tentang permainan gasing sebagai permainan rakyat Melayu (Riau). Cerita ini secara garis besar ingin mengajak kita untuk menyikapi perihal permainan gasing yang kini mulai redup dimainkan oleh masyarakat Melayu, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Cerita yang mengalir lurus ini cukup memiliki kesan kuat akan sebuah usaha perjuangan anak untuk ikut lomba dalam sebuah helat yang diadakan di kampungnya dalam rangka perayaan ulang tahun kemerdekaan. Melewati dua tokoh utamanya, Budi dan Ramli, cerita mengetengahkan semangat anak untuk ikut serta dalam perlombaan itu. Setidaknya ini dapat diambil hikmah bahwa anak-anak sebenarnya masih tertarik akan permainan rakyat yang sederhana itu. Ditambah perjuangan kedua tokoh untuk dapat memiliki gasing itu sendiri yang akhirnya mereka sama-sama belajar dari ayahnya Budi dalam membuat gasing. Ini juga sebagai bentuk nilai semangat dalam keingintahuan pada proses dalam memproduksi benda itu.

Namun dari sisi bentuk tuturan cerita tersebut masih dirasa agak kurang menggigit untuk dinikmati. Penyajian cerita yang kurang menarik akan menjurus kepada keengganan pembaca untuk terus menelusuri cerita, meskipun tema cerita yang diangkat telah mendukung dan bagus. Adanya ketidakpadatan dalam penuturan atau pula pengembangan cerita tersebut menjadikan cerita kurang “menggigit” untuk dinikmati lebih jauh. Secara tekstual, karya fiksi juga memiliki struktur yang menunjang dalam rangka membangun kesan kuat dari pengisahannya. Segala rancang-bangun itu menjadi kokoh untuk mengantarkan karya fiksi ke dalam bentuk yang memikat; lancar mengalir ceritanya yang diolah dari rangkaian kalimat, juga segala perihal suasana berikut kesan yang dibangun oleh pengarangnya.

Cerita anak ini berjudul “Pertandingan Gasing (Cerita Permainan Tradisional Anak Riau)”. Hal judul sebuah karya fiksi pada dasarnya memiliki perbedaan dengan karya ilmiah. Sebuah cerita fiksi (karya sastra; juga sastra anak) lebih lazim menggunakan kalimat atau kata yang tidak kaku, sebagaimana penjudulan karya fiksi. Artinya tidak mengarah kepada kesan ilmiah yang cenderung kaku. Judul yang disuguhkan Mulyati Umar masih terasa kurang mengarah untuk menjadi penjudulan karya fiksi, yang sebaliknya lebih terasa kepada penjudulan karya ilmiah seperti judul artikel atau makalah. Apalagi ditambah keterangan pendukung di bawah judul utama. Alangkah baiknya kalau judul tersebut mengarah saja kepada bentuk kalimat aktif yang sederhana namun berkesan ke fiksi. Hal ini dapat kita contohkan dari judul-judul cerita anak berikut: “Ayub Abon”, “Ketika Bunda adalah Guru Kelasku”, “Laba-Laba Ibal”, “Rumah di Pinggir Rel” sekadar menyebutkan. Maka judul cerita Mulyati Umar dapat diperbaiki ke arah tersebut menjadi seperti, antara lain: “Gasing Bertuah Ramli”, “Gasing-Gasing di Kepala Ramli”, “Debar Gasing” atau “Si Jago Gasing” akan lebih sreg sebagai penjudulan sebuah karya fiksi.

Selain itu, cerita tersebut diawali dengan kalimat pembuka yang kurang “menggigit”. Kalimat awal dirasa berpola kalimat keterangan yang datar. Cerita fiksi menuntut sebuah “hentakan” pertama yang membuat pembaca tersentak. Ada hal yang menjadi sebuah kesan membangun untuk terus mengajak pembaca menguntitnya. Hentakan awal itu, terdapat di kalimat pembuka yang menjadi awal cerita. Ini berpengaruh kepada daya cipta pengarang bagaimana mengolah sebuah paragraf awal dengan kalimat-kalimat menarik. AS Laksana menyebutkan dalam sebuah ulasan di bukunya, “Tunjukkan, jangan ceritakan.” Artinya, membangun kesan dalam cerita tersebut dengan pola-tingkah tokoh-tokohnya akan lebih menarik ketimbang menceritakan tokoh.

Hal itu dapat kita telisik, semisal kita ingin menceritakan sesuatu dari tokoh yang sedang dilanda sedih. Dalam hal ini kita tidak perlu menyebutkan kata /sedih/ tapi tunjukkan bagaimana tingkah-laku tokoh yang sedang bersedih. Hal ini dapat  dicontohkan, “Akhir-akhir ini aku tidak lagi melihat Desi semangat ketika belajar. Padahal setiap mata pelajaran selalu diikutinya dengan antusias. Kini, ia pun sering duduk di posisi sudut, diam seribu bahasa. Padahal kami tahu ia paling aktif. Tak jarang kami lihat matanya yang redup dan tubuhnya melemah seperti dahan rapuh. Sekali waktu pernah kami melihat matanya memerah dan berair, ketika kami mencoba bertanya kenapa, ia hanya menggeleng sambil berkata lirih, ‘tidak, hanya kelilipan saja.’ Padahal kami tahu hatinya remuk.” Hal itu menunjukkan tentang apa yang dialami tokoh dari hal “sedih” tanpa ada kata-kata “sedih” yang menyertainya, bentuk ini akan lebih terasa berkesan dalam penyampaian cerita.

Cerita Mulyati Umar dimulai dengan kalimat pembukaan berikut:

Cuaca sangat cerah. Matahari bersinar dengan teriknya. Suhu udara juga terasa panas. Ramli dan Budi bergegas pulang dari sekolah agar segera sampai di rumah. Ramli dan Budi sekarang duduk di kelas 5 SD Harapan Baru. Sebuah sekolah dasar di kampungnya. Setiap hari mareka pulang dengan berjalan kaki. Jarak sekolah dengan rumah cukup jauh, di tempuh Ramli dan Budi selama 30 menit. Mereka pulang sekolah sambil bersenda gurau sehingga panas udara siang ini tidak begitu mereka hiraukan. 

Pembukaan awal ini setidaknya dapat diungkap lebih mengarah ke dalam bentuk metafor hingga terkesan sebuah karya fiksi.

Budi dan Ramli memayungi kepala dengan tas. Matahari sungguh terasa membakar kulit. Namun mereka cukup kuat berjalan walau perut telah keroncongan. Sesekali dalam obrolan itu, diselingi derai tawa hingga mereka tidak terlalu merasakan panas yang menyengat itu.

 Selain itu, penggunaan kata-kata perlu ditinjau lebih jauh. Peninjuan kata dalam penggunaannya di kalimat sangat berpengaruh untuk menjadikan kalimat yang efektif; padu, runtut, jelas, dan tidak mengarah kepada bentuk berulang; atau boleh jadi akan terperosok kepada ambigu. Termasuk pula dalam hal ini penggunaan kata hubung dan juga kata keterangan tempat, waktu, suasana. Kalimat awal kedua bertuliskan, /matahari bersinar dengan teriknya/ dirasa mubazir. Hal ini dapat diubah menjadi kalimat utuh sebagai kalimat yang menerangkan dengan bentuk /matahari sangat terik/ atau /matahari bersinar terik/. Dalam sebuah kalimat kadang-kadang tidak semuanya cocok dan pas kita menggunakan kata hubung “dengan”. Adakalanya tanpa kata itu, kalimat kita sudah menjadi bentuk kalimat utuh.

Kalimat ketiga bertuliskan /suhu udara juga terasa panas/ memiliki kesan kalimat biasa. Pengungkapan kalimat juga dirasa masih belum tertata. Sebaiknya ditelisik lebih jauh antara kata “suhu” dan “udara” yang mana kedua kata itu harus dibuang salah satunya. Kata /udara/ sudah mencerminkan “rasa” akan /suhu/, karena diiringi oleh kata /panas/ yang menyertainya. Kalimat ini bisa diperbaiki menjadi, seperti: /udara terasa panas/ atau yang lebih ke arah metafor /penas begitu menggila/ lebih terasa sebagai bentuk perumpamaan dalam penggambaran suasana yang “sangat panas” itu.

Maka, cerita fiksi lebih dirasa menyentuh dengan pengolahan metafor, karena akan memberi suguhan keindahan akan kalimat. Selain dari bagaimana—seperti yang dikatakan oleh AS Laksana—kita menyuguhkan cerita oleh pengolahan kalimat untuk tidak mengatakan langsung tentang perkara, tetapi dengan menunjukkan kesan-kesan tokoh lewat tingkah lakunya, gerak-geriknya, usahanya, yang hal tersebut menunjukkan aktivitas dari tokoh. Ini akan lebih berkesan dalam karangan fiksi.

Cerita Mulyati Umar pada dasarnya mengambil tema yang bagus, yaitu tentang budaya, dengan menceritakan dua orang anak yang ingin ambil bagian dalam sebuah perlombaan gasing. Bermain gasing adalah aktivitas yang dilakukan masyarakat Melayu. Aktivitas yang patut ditunjukkan lagi oleh generasi kini. Sosok Budi dan Ramli dapat menyimbolkan semangat itu dalam menghidupkan permainan rakyat. Namun dalam cerita, unsur detail belum tampak. Apakah perlombaan gasing itu hanya untuk anak-anak? Atau orang dewasa? Tidak ada keterangan jelas hal tersebut. Cerita lebih menjurus usaha bagaimana kedua anak itu mendapatkan gasing dan mereka bekerja keras membuatnya dengan dibantu oleh ayah si Budi. Memang akhirnya berhasil. Namun dari sisi mereka menjalani pertandingan, tidak tampak banyak uraian bagaimana mereka berjuang dalam bertanding. Tokoh Budi memang memenangi pertandingan, namun Ramli gagal dalam bertanding hingga mengalami kesedihan.

Budi mulai menggunakan pahat untuk membuat sesuatu, Ramli mengamati dengan seksama. Ayah Budi datang mengajar Budi. Budi mulai memahat kayu balok dengan pahat di tangan kiri dan palu kecil di tangan kanan. Ramli ikut mengamatinya. Setelah beberapa waktu berlalu. Ramli penasaran. Ramli ingin ikut apa yang dilakukan Budi. Budi sangat terampil mengunakan pahat.

“Budi, aku juga mau memahat seperti kamu.” ujar Ramli dengan penasaran.

“Ayo Ramli, mari belajar sama abah!” sahut ayah Budi.

“Kamu ambil balok yang ada di sudut itu!” ucap Budi sambil menunjuk ke arah sudut gudang. Ramli segera beranjak untuk mengambil balok kayu yang ditunjuk Budi.

“Kayu ini cukup bagus, saya ambil ini saja.”guman Ramli sendiri.

“Abah, apa yang akan kita buat?” ujar Ramli kepada ayah Budi.

Ayah Budi mengambil kayu tersebut dan memberinya pola.

“Kamu tadi sudah memperhatikan apa yang dilakukan Budi dan sekarang kamu ikuti!” sahut Ayah Budi kepada Ramli.

Setelah itu Ramli mulai mengambil peralatan seperti yang digunakan Budi. Di tangan Ramli sudah ada kayu balok, pahat dan palu. Ramli terlihat mulai memahat kayu balok dengan mengunakan pahat dan palu. Ayah Budi mengajari Ramli cara memahat bersama Budi. Budi dan Ramli terlihat asyik di gudang kayu milik ayah Budi.

Teks di atas menunjukkan semangat, rasa ingin tahu, dorongan untuk mencoba membuat gasing menjadi sesuatu yang patut dihargai, apalagi bagi anak kecil yang dalam hal ini—secara tidak langsung—menghargai budaya. Bukan tidak mungkin anak-anak zaman kekinian ini tidak tahu, atau memang tidak mau tahu untuk bermain gasing bahkan tidak berminat sama sekali dalam permainan itu, karena mereka lebih asyik dengan benda-benda elektronik yang canggih di genggaman. Namun, melewati cerita ini, Mulyati Umar, setidaknya—secara tak langsung—menyuguhkan kesan untuk menghargai budaya melewati permainan rakyat. Setidaknya pula, sebagai orang dewasa tentu kita kagum melihat anak-anak kecil yang semangat membuat benda-benda kerajinan tangan (dalam hal ini gasing) yang kini telah jarang dan hampir tidak tersentuh oleh tangan-tangan kaum melenial.

Namun, perjuangan bertanding kedua tokoh itu (Budi dan Ramli) sayangnya tidak diceritakan jauh dalam cerita ini. Setidaknya gambaran perjuangan mereka mendapat porsi penceritaan yang lebih banyak, hingga mampu memberi pandangan akan judul besarnya yaitu tentang “pertandingan gasing”. Bagaimana usaha keras, juga rasa was-was (mungkin) dari kedua tokoh anak itu dalam bertanding untuk memberikan hasil terbaik sebuah kemenangan. Setidaknya hal ini akan lebih menjadi cerita heroik dan seru, ketimbang menceritakan dalam porsi besar bagaimana mereka membuat gasing tersebut.

Bukankah Ramli mengalami kekalahan? Kekalahan yang sebenarnya patut diceritakan lebih runtut untuk mendapatkan komplikasi (puncak konflik) cerita.  Sebagaimana seorang yang telah habis-habisan berjuang untuk mendapatkan kemenangan dalam sebuah pertandingan—apalagi hal itu jauh hari telah diidamkan dan dipersiapkannya—nyatanya ia hanya mendapatkan kekalahan, ini sebuah hal yang sangat “meremukkan” hati yang sejatinya perlu dikisahkan dengan apik.

Cerita ini juga perlu dipertimbangkan untuk tidak banyak menggunakan kata yang diulang. Seperti dalam menyebutkan orang dengan penyebutan namanya. Kita tidak perlu mengulangi nama orang tersebut, namun cukup saja dengan menggunakan kata ganti orang ketiga seperti /dia/ atau dalam bentuk jamak /mereka/.

Setelah itu Ramli mulai mengambil peralatan seperti yang digunakan Budi. Di tangan Ramli sudah ada kayu balok, pahat dan palu. Ramli terlihat mulai memahat kayu balok dengan mengunakan pahat dan palu. Ayah Budi mengajari Ramli cara memahat bersama Budi. Budi dan Ramli terlihat asyik di gudang kayu milik ayah Budi.

Cuaca sangat cerah. Matahari bersinar dengan teriknya. Suhu udara juga terasa panas. Ramli dan Budi bergegas pulang dari sekolah agar segera sampai di rumah. Ramli dan Budi sekarang duduk di kelas 5 SD Harapan Baru. Sebuah sekolah dasar di kampungnya. Setiap hari mareka pulang dengan berjalan kaki. Jarak sekolah dengan rumah cukup jauh, di tempuh Ramli dan Budi selama 30 menit. Mereka pulang sekolah sambil bersenda gurau sehingga panas udara siang ini tidak begitu mereka hiraukan.

 

Juga dalam hal bentuk penggunaan kata yang telah berbentuk jamak, akan berpeluang kepada ketidakajegan dalam proses pembacaan cerita oleh pembaca. Kata-kata yang telah berpotensi memiliki makna “banyak” cukup berdiri sendiri karena telah memiliki pondasi makna, ia tidak perlu disanding dengan kata keterangan lain.

Sore hari di balai desa, Ramli ikut dalam pertandingan gasing. Banyak anak-anak di sana. Tapi dalam pertandingan gasing dilakukan berpasangan dengan lawan mainnya. Budi juga ikut dalam pertandingan. Gasing Budi sudah menang. Gasing siapa yang berhenti dahulu atau bertabrakan dengan gasing lawan hingga terpental keluar lapangan berarti kalah.

Penggunaan penyebutan nama yang berulang akan berpeluang pada kejenuhan pada proses pembacaan, begitu pula penggunaan kata-kata yang telah bermakna “banyak”. Maka, dalam hal ini peran linguistik dapat membantu kita dalam proses menyusun dan menyikapi cerita fiksi.

Cerita ini pada dasarnya utuh dan untuk itulah mampu memiliki potensi pengembangan cerita yang menarik, oleh sebab tema yang diangkat Mulyati Umar mencerminkan nilai-nilai budaya yang patut diangkat kembali. Apalagi dalam cerita ini tokoh yang berperan adalah anak kecil yang notabenenya masih belia, telah mampu semangat untuk ikut serta dalam pertandingan yaitu pertandingan gasing sebagai khasanah permainan rakyat. Secara jauh, nilai-nilai ekstrinsik cerita Mulyati Umar ingin mengajak kita menyikapi kembali akan budaya permainan rakyat ini, sambil berkata pada diri kita yang tua-tua ini “sampai dimana kita peduli akan hal itu?” dan hanya hati kita masing-masing yang merasakannya. Sedangkan tokoh Budi dan Ramli mampu menjadi simbol pendobrak sekaligus—katakanlah—“tamparan” kecil buat kita untuk menilai diri sebagai manusia modern ini yaitu jangan hanya berkutat pada benda-benda modern, tetapi harus pula tetap menghargai benda-benda masa lalu yang mana benda itu sejatinya juga memiliki peran dalam kehidupan, apakah sebagai sarana pergaulan, kemudahan dalam pekerjaan, simbol yang bisa menjadi kebanggaan suatu puak, hingga mampu menjadi ciri khas suatu masyarakat. Maka, hal itu sangat patut dipertahankan atau dilestarikan. Demikian. (*)

Selatpanjang, Juli 2020

 

 

 

------------------------------------------------

Riki Utomi. Penulis dan pendidik, juga penikmat karya sastra. Bukunya Mata Empat (cerpen, 2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (cerpen, 2015), Mata Kaca (2017), Menuju ke Arus Sastra (esai, 2017), Belajar Sastra Itu Asyik (nonfiksi, 2019), Amuk Selat (puisi, 2020), Anak-Anak yang Berjalan Miring (cerpen, 2020). Bergiat di FLP Riau. Tinggal di Selatpanjang. 

Selasa, 13 Oktober 2026

Alzheimer dan Fisioterapi: Membantu Lansia Tetap Aktif dan Mandiri

 Tulisan Aisyah Shofwah Hamidah

Definisi Penyakit Alzheimer 

“Pertama, kita akan membahas apa itu penyakit Alzheimer.

Alzheimer adalah penyakit yang menyerang otak dan menyebabkan kemampuan seseorang untuk mengingat, berpikir, memahami, dan mengambil keputusan mengalami penurunan secara bertahap. Penyakit ini berbeda dengan proses penuaan normal karena gangguan yang terjadi dapat semakin berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kita mungkin pernah melihat seorang lansia yang sering lupa meletakkan barang, lupa terhadap percakapan yang baru saja dilakukan, atau bahkan lupa nama orang terdekatnya. Kondisi seperti ini perlu diperhatikan, terutama jika terjadi secara terus-menerus dan semakin memburuk.



Namun, perlu kita pahami bahwa Alzheimer dan demensia bukanlah istilah yang sama. Demensia merupakan istilah umum untuk menggambarkan penurunan kemampuan kognitif yang sampai mengganggu kehidupan sehari-hari, sedangkan Alzheimer adalah salah satu penyakit yang dapat menyebabkan demensia.

Selain itu, penanganan Alzheimer juga memiliki tantangan tersendiri karena pasien mungkin membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang. Beberapa obat dapat menimbulkan efek samping, seperti mual, muntah, diare, gangguan tidur, dan keluhan lainnya. Oleh karena itu, penanganan pasien perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui pengobatan, tetapi juga dengan dukungan keluarga dan tenaga kesehatan, termasuk fisioterapis.”

Etiologi atau Penyebab Penyakit Alzheimer

“Selanjutnya, apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang mengalami Alzheimer?

Sampai saat ini, penyebab pasti Alzheimer belum diketahui sepenuhnya. Namun, penyakit ini diduga terjadi karena kombinasi berbagai faktor, baik dari dalam tubuh maupun dari lingkungan dan gaya hidup seseorang.

Faktor pertama adalah usia. Semakin bertambah usia seseorang, terutama setelah usia 65 tahun, risiko mengalami Alzheimer cenderung meningkat. Meskipun demikian, tidak semua lansia akan mengalami penyakit ini.

Faktor kedua adalah genetik atau keturunan. Seseorang yang memiliki perubahan gen tertentu atau riwayat keluarga dengan Alzheimer dapat mempunyai risiko yang lebih tinggi.

Faktor ketiga berkaitan dengan kesehatan tubuh, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, dan obesitas. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah dan berkontribusi terhadap gangguan fungsi otak.

Selain itu, kebiasaan hidup yang kurang sehat, seperti jarang berolahraga, pola makan tidak seimbang, dan merokok, juga berkaitan dengan peningkatan risiko demensia. Kurangnya aktivitas yang merangsang otak, gangguan tidur berkepanjangan, depresi, cedera kepala, serta kurangnya interaksi sosial juga perlu diperhatikan.

Jadi, Alzheimer bukan disebabkan oleh satu faktor saja. Ada berbagai faktor yang dapat saling berhubungan. Karena itu, menjaga kesehatan tubuh, tetap aktif secara fisik dan mental, serta mempertahankan hubungan sosial merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan otak.”

Patofisiologi Penyakit Alzheimer

“Setelah mengetahui faktor risikonya, sekarang kita akan membahas apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak penderita Alzheimer.

Agar lebih mudah dipahami, kita bisa membayangkan otak sebagai pusat kendali tubuh yang terdiri atas miliaran sel saraf. Sel-sel ini saling berkomunikasi agar kita dapat mengingat, berpikir, berbicara, dan menggerakkan tubuh dengan baik.

Pada penyakit Alzheimer, terjadi penumpukan protein abnormal di otak. Dua proses utama yang sering dijelaskan adalah terbentuknya plak beta-amiloid di luar sel saraf dan penumpukan protein tau yang membentuk neurofibrillary tangles di dalam sel saraf.

Plak beta-amiloid dapat mengganggu fungsi sel saraf, sedangkan protein tau yang mengalami perubahan abnormal dapat mengganggu sistem transportasi di dalam sel. Akibatnya, sel saraf tidak dapat bekerja secara normal dan pada akhirnya dapat mengalami kerusakan atau kematian.

Kerusakan tersebut juga memicu peradangan kronis dan stres oksidatif yang semakin memperburuk kondisi jaringan otak. Salah satu bagian yang terdampak adalah hipokampus, yaitu bagian otak yang berperan penting dalam proses pembentukan dan penyimpanan ingatan.

Itulah sebabnya penderita Alzheimer sering mengalami gangguan daya ingat yang semakin berat dari waktu ke waktu.

Selain itu, berkurangnya neurotransmiter asetilkolin turut berkontribusi terhadap gangguan memori dan kemampuan berpikir. Pada tahap lanjut, gangguan juga dapat melibatkan fungsi motorik dan kontrol postur tubuh.

Artinya, Alzheimer bukan hanya memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengingat, tetapi juga dapat memengaruhi keseimbangan, koordinasi, dan kemampuan berjalan. Di sinilah peran fisioterapi menjadi penting untuk membantu mempertahankan kemampuan gerak dan fungsi tubuh pasien.”

Tanda dan Gejala Penyakit Alzheimer

“Berikutnya, kita akan membahas tanda dan gejala Alzheimer. Gejalanya umumnya muncul secara bertahap dan dapat semakin berat seiring perkembangan penyakit.

Pada stadium ringan atau tahap awal, pasien biasanya mulai sering melupakan kejadian yang baru saja dialami. Pasien juga dapat mengalami kesulitan menemukan kata-kata ketika berbicara, kesulitan merencanakan kegiatan sederhana, serta perubahan suasana hati, seperti mudah cemas atau mulai menarik diri dari lingkungan sosial.

Pada stadium sedang, gangguan tersebut semakin terlihat. Pasien mungkin mulai lupa nama orang terdekat, kebingungan mengenai waktu dan tempat, atau mengalami kesulitan mengenali anggota keluarga. Perilakunya juga dapat berubah, misalnya menjadi mudah gelisah, curiga, atau agresif. Pada tahap ini, pasien mulai membutuhkan bantuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti berpakaian dan makan.

Kemudian, pada stadium berat, ketergantungan pasien terhadap orang lain menjadi semakin tinggi. Pasien dapat kehilangan kemampuan berkomunikasi secara verbal, mengalami gangguan berjalan, kekakuan otot, kesulitan menelan, serta gangguan dalam mengontrol buang air kecil dan buang air besar.

Bagi kita yang mempelajari fisioterapi, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Pada stadium sedang hingga berat, pasien juga dapat mengalami penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan, perubahan postur, dan pola berjalan yang tidak stabil.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko jatuh dan mengurangi kemampuan pasien untuk bergerak secara mandiri. Oleh sebab itu, pemeriksaan fungsi fisik perlu menjadi bagian dari penanganan pasien Alzheimer.”

Dampak Alzheimer terhadap Fungsi Tubuh dan Aktivitas Sehari-hari

“Sekarang, mari kita lihat bagaimana Alzheimer memengaruhi kehidupan sehari-hari pasien.

Ketika mendengar penyakit Alzheimer, sebagian besar orang mungkin langsung berpikir tentang gangguan daya ingat. Padahal, dampaknya tidak hanya pada kemampuan berpikir, tetapi juga pada kondisi fisik dan kemandirian seseorang.

Pertama, pasien dapat mengalami penurunan kekuatan otot atau sarkopenia. Hal ini dapat terjadi karena aktivitas fisik semakin berkurang dan proses penuaan yang berlangsung bersamaan dengan penyakit.

Kedua, pasien dapat mengalami gangguan keseimbangan dan kontrol postur. Akibatnya, pasien lebih mudah kehilangan keseimbangan dan memiliki risiko jatuh yang lebih tinggi.

Ketiga, pola berjalan dapat berubah. Kecepatan berjalan menjadi lebih lambat, panjang langkah memendek, dan langkah menjadi kurang stabil.

Keempat, kurangnya pergerakan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kekakuan otot dan sendi. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi kontraktur, yaitu keterbatasan gerak sendi akibat pemendekan jaringan di sekitarnya.

Selain itu, berkurangnya aktivitas fisik juga dapat menurunkan kebugaran jantung dan paru-paru.

Lalu, bagaimana dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari?

Pasien mungkin mulai kesulitan melakukan aktivitas dasar, seperti mandi, berpakaian, makan, berpindah dari tempat tidur ke kursi, dan menggunakan toilet. Aktivitas yang lebih kompleks, seperti berbelanja, mengelola keuangan, dan menggunakan transportasi umum, juga dapat menjadi semakin sulit.

Semakin berat gangguan yang dialami, semakin besar pula bantuan yang dibutuhkan pasien dari keluarga atau caregiver.

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kualitas hidup pasien, tetapi juga dapat menambah beban fisik, emosional, dan finansial bagi keluarga yang merawatnya.

Oleh karena itu, penanganan Alzheimer perlu dilakukan secara komprehensif. Salah satu tujuannya adalah mempertahankan kemampuan pasien agar tetap dapat melakukan aktivitas sehari-hari seoptimal mungkin. Dalam hal ini, fisioterapi berperan membantu menjaga mobilitas, kekuatan otot, keseimbangan, dan kemampuan fungsional pasien.”

Implikasi Penyakit Alzheimer terhadap Pelaksanaan Fisioterapi

“Bagian terakhir sekaligus menjadi fokus kita sebagai calon tenaga fisioterapi adalah bagaimana penyakit Alzheimer memengaruhi pelaksanaan fisioterapi.

Perlu dipahami bahwa fisioterapi tidak bertujuan menyembuhkan Alzheimer, tetapi membantu mempertahankan fungsi fisik, menjaga mobilitas, mengurangi risiko jatuh, dan mendukung kualitas hidup pasien selama mungkin.

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya.

Pertama, pemeriksaan dan asesmen fisioterapi.

Sebelum memberikan latihan, fisioterapis perlu mengetahui kondisi dan kemampuan pasien terlebih dahulu. Pemeriksaan dapat mencakup kekuatan otot, lingkup gerak sendi, keseimbangan, pola berjalan, serta kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

Untuk menilai keseimbangan dan risiko jatuh, fisioterapis dapat menggunakan instrumen seperti Berg Balance Scale atau Timed Up and Go Test, sesuai kondisi dan kemampuan pasien.

Namun, pemeriksaan pada pasien Alzheimer membutuhkan pendekatan komunikasi yang khusus. Instruksi sebaiknya diberikan menggunakan kalimat sederhana, singkat, jelas, dan dapat diulang jika diperlukan. Dengan demikian, pasien lebih mudah memahami apa yang harus dilakukan.

Kedua, intervensi atau latihan fisioterapi.

Latihan perlu disesuaikan dengan kemampuan, kondisi kesehatan, tingkat gangguan kognitif, dan keamanan pasien.

Latihan penguatan otot dapat diberikan untuk membantu mempertahankan kekuatan dan kemampuan berpindah tempat. Latihan keseimbangan bertujuan mengurangi risiko jatuh, sedangkan latihan berjalan dilakukan untuk mempertahankan kemampuan mobilitas pasien.

Selain itu, aktivitas aerobik ringan hingga sedang dapat dipertimbangkan sesuai toleransi pasien. Latihan lingkup gerak sendi juga penting, terutama bagi pasien yang aktivitasnya sangat terbatas, untuk membantu mempertahankan fleksibilitas dan mencegah kontraktur.

Pada pasien yang mengalami imobilisasi atau tidak mampu bergerak secara mandiri, pengaturan posisi tubuh dan pencegahan luka tekan juga perlu diperhatikan.

Semua latihan tersebut harus dilakukan sesuai hasil asesmen dan dengan pengawasan yang memadai.

Ketiga, edukasi dan keterlibatan caregiver.

Fisioterapi tidak cukup hanya dilakukan ketika pasien datang ke tempat pelayanan kesehatan. Dukungan keluarga atau caregiver juga sangat penting karena pasien membutuhkan bantuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Fisioterapis perlu mengajarkan cara membantu pasien berpindah tempat dengan aman, mendampingi latihan di rumah, serta mengatur lingkungan agar tidak membahayakan pasien.

Sebagai contoh, keluarga dapat membantu mengurangi risiko jatuh dengan memastikan jalur berjalan tidak terhalang barang, menjaga pencahayaan rumah tetap baik, dan mendampingi pasien ketika berjalan jika diperlukan.

Dengan edukasi yang tepat, caregiver dapat membantu pasien menjalani aktivitas dengan lebih aman sekaligus mengurangi risiko cedera bagi pasien maupun orang yang merawatnya.

Keempat, pendekatan multidisiplin.

Penanganan Alzheimer membutuhkan kerja sama berbagai tenaga kesehatan, seperti dokter spesialis saraf, psikiater atau psikolog, ahli gizi, perawat, terapis okupasi, dan fisioterapis.

Setiap profesi memiliki peran yang berbeda, tetapi semuanya bekerja untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu memberikan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.

Dalam tim tersebut, fisioterapis berfokus pada pemeliharaan kemampuan gerak, kekuatan otot, keseimbangan, pola berjalan, dan kemandirian fungsional pasien.

Dengan kerja sama yang baik, penanganan pasien diharapkan dapat berlangsung lebih terarah dan kebutuhan pasien maupun keluarganya dapat diperhatikan secara menyeluruh.”

Penutup Presentasi

“Dari pembahasan ini, dapat kita simpulkan bahwa penyakit Alzheimer merupakan gangguan neurodegeneratif progresif yang tidak hanya memengaruhi daya ingat dan kemampuan berpikir, tetapi juga dapat berdampak pada fungsi fisik, keseimbangan, pola berjalan, serta kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.

Bagi kita di bidang fisioterapi, penting untuk memahami bahwa setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, pemeriksaan harus dilakukan secara menyeluruh, latihan harus disesuaikan dengan kemampuan pasien, dan keselamatan harus menjadi prioritas utama.

Kita juga tidak boleh melupakan peran keluarga dan caregiver karena keberhasilan program fisioterapi sangat dipengaruhi oleh dukungan dan pendampingan yang berkelanjutan.


DAFTAR PUSTAKA

Abubakar, M. B., Sanusi, K. O., Ugusman, A., Mohamed, W., Kamal, H., Ibrahim, N. H., Khoo, C. S., & Kumar, J. (2022). Alzheimer's Disease: An Update and Insights Into Pathophysiology. Frontiers in Aging Neuroscience, 14, 742408. https://doi.org/10.3389/fnagi.2022.742408

Kasprata, H. N., & Harahap, H. S. (2023). Diagnosis dan Tatalaksana Demensia Alzheimer. Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, 10(12), 3471–3479.

Nurmawanti, L., & Sudaryanto, A. (2025). Penatalaksanaan Holistik Penyakit Alzheimer pada Lansia di Panti Sosial. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 7(1), 721–728. https://doi.org/10.37287/jppp.v7i1.5783

Sidarta, E., Sari, T., & Nataprawira, S. M. D. (2025). Patofisiologi, Faktor Risiko dan Peran Inflamasi dalam Perkembangan Penyakit. Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran, 3(1), 235–244. https://doi.org/10.55606/termometer.v3i1.4801

Susanti, N., Siregar, N. H., Ramadhani, N., & Sihite, R. N. (2024). Alzheimer dan Dimensia. Jurnal Kesehatan Tambusai, 5(2), 5736–5743. https://doi.org/10.31004/jkt.v5i2.28471

Susilo, T. E., Anggraeni, A. F., Muliana, K. D. P., Mustofa, M. D., Sila, U. D. C., Zain, S. A., & Pristianto, A. (2023). Edukasi Fisioterapi Kemampuan Fungsional Pada Caregiver di Komunitas Alzheimer Solo Raya. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(3), 196–209. https://doi.org/10.58545/djpm.v2i3.206

Widyantoro, W. (2021). Hubungan Antara Demensia dengan Activity of Daily Living (ADL) pada Lanjut Usia. Indonesian Journal for Health Sciences, 5(1), 77–85.