Catatan Muyati Umar
Menjadi orang tua di zaman sekarang
memang terasa lebih "menantang" istilah gaulnya, sedikit rempong.
Namun sesungguhnya, kerepotan itu tidak harus menjadi bagian tetap dari
keseharian kita. Kuncinya sederhana: biasakan anak melakukan sendiri hal-hal
yang sebenarnya sudah mampu ia kerjakan sejak usia dini.
Ada banyak hal kecil yang perlu
dikenalkan kepada anak sejak awal. Justru hal-hal sepele inilah yang sering
luput dari perhatian, padahal di situlah akar dari kerepotan kita sehari-hari.
Jangan pernah meremehkan sesuatu yang tampak kecil, sebab bagi anak, itu adalah
bentuk ekspresi mereka dalam menjalani aktivitas dan mengenal dunianya.
Tak jarang orang tua merasa kesal ketika
si kecil enggan bermain bersama teman sebayanya tanpa didampingi. Padahal,
kemandirian adalah keterampilan yang perlu dilatih sejak dini — dimulai dari
hal-hal kecil dan kebutuhan pribadinya sendiri.
Di era serba cepat ini, banyak orang
berharap segalanya bisa instan. Namun kemandirian tidak bekerja seperti itu.
Memang bisa saja dipaksakan, tetapi hasilnya tak akan maksimal. Sebab pada
hakikatnya, sesuatu yang "dimatangkan" sebelum waktunya justru akan
menimbulkan masalah baru, bukan solusi.
Secara harfiah, mandiri berarti mampu
memenuhi kebutuhan sendiri dengan seminimal mungkin bergantung pada orang lain.
Anak yang mandiri akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya, tumbuh
dengan percaya diri, dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dengan baik.
Para ahli dan psikolog banyak yang
sepakat: kemandirian bisa dan sebaiknya dilatih sejak kecil. Namun untuk
mewujudkannya, orang tua perlu memahami terlebih dahulu apa yang sesungguhnya
dibutuhkan dan diinginkan anak, lalu memberikan pembiasaan secara konsisten.
Mandiri dan berani adalah dua karakter
yang idealnya dimiliki setiap orang, tak terkecuali anak-anak. Lantas,
bagaimana cara mendidik anak agar tumbuh mandiri sekaligus percaya diri untuk
melakukan segala sesuatu sendiri? Berikut beberapa langkah yang bisa
diterapkan.
1. Kenalkan Anak dengan Dunia Luar
Kepribadian dan kebiasaan seseorang mulai
terbentuk sejak usia dini. Karena itu, bangunlah rasa percaya diri anak sedini
mungkin, jangan biarkan rasa takut terus membayangi dirinya hingga dewasa
kelak.
Jika anak sering merasa malu, takut, atau
enggan berbaur dengan orang-orang di sekitarnya, cobalah lebih sering
mengajaknya bertemu orang baru. Di awal, mungkin ia akan merasa canggung dan
tidak nyaman, itu wajar.
Mulailah dari lingkup kecil, lalu perluas
secara bertahap. Interaksi yang terbangun perlahan akan membuat anak semakin
terbiasa dengan lingkungannya. Ajak ia bermain di taman pada sore hari, tempat
biasanya banyak anak-anak seusianya berkumpul.
Cara ini, tanpa disadari, akan membantu
anak agar tidak "kaget" saat kelak dihadapkan pada hal-hal baru yang
belum pernah ia temui sebelumnya.
2. Biarkan Anak Menentukan Pilihannya
Sendiri
Keinginan untuk melakukan sesuatu
idealnya tumbuh dari dalam diri seseorang. Anak yang mandiri biasanya tidak
terlalu bergantung pada orang lain dalam mengambil keputusan. Sebagai orang
tua, kita tidak bisa terlalu memaksakan pilihan tertentu kepada anak, jika
dipaksakan, ia justru akan merasa tidak nyaman, bahkan enggan menjalani
kewajibannya dengan tulus.
Misalnya, ketika si kecil berkata,
"Aku nggak mau masuk les hari ini kalau temanku nggak masuk," itu
pertanda ia belum sepenuhnya siap menghadapi kewajibannya tanpa dukungan orang
lain. Jangan buru-buru emosi.
Sebagai gantinya, dampingi dan berikan
masukan atas pilihan yang akan diambilnya, sebuah cara mendidik anak agar
berani menentukan keputusannya sendiri. Jelaskan sisi positif dan negatif dari
setiap pilihan, agar ia belajar mempertimbangkan konsekuensinya.
3. Jadilah "Pelindung" bagi
Anak
Sebagian anak tampak begitu mudah mencoba
hal-hal baru dengan semangat yang membara. Namun tidak sedikit pula anak yang
justru memilih mundur karena ragu, malu, atau takut gagal.
Dalam situasi seperti ini, tahan diri
untuk tidak membentak anak karena "ketidakberaniannya". Wajar jika
anak merasa tidak yakin menghadapi sesuatu yang masih asing baginya, entah itu
berkenalan dengan orang baru, mencoba berenang untuk pertama kali, atau sekadar
mencoba papan seluncur.
Tugas kita di sini adalah menjadi tempat
berlindung yang membuatnya merasa aman. Temani ia hingga keberaniannya perlahan
tumbuh. Berikan dukungan dengan kalimat hangat seperti, "Tuh, lihat, seru
kan? Kamu beneran nggak mau coba? Ayah temani, ya," atau ungkapan lain
yang mampu membangkitkan semangatnya.
4. Hargai Setiap Usahanya
Ketika si kecil mulai menunjukkan
keberanian dan kemandirian sedikit demi sedikit, pastikan kita bersama seluruh
keluarga selalu memberikan apresiasi.
Bahkan saat ia gagal sekalipun, jangan sampai hal itu memadamkan semangatnya
untuk terus berkembang.
Tunjukkan kebahagiaan atas setiap usaha
yang telah ia lakukan. Sekecil apa pun itu, apresiasi mampu membangkitkan
semangat anak untuk terus maju dan mengembangkan sikap berani serta mandirinya.
Anak yang mandiri cenderung tidak terlalu
bergantung pada orang tua dan tidak manja. Ia tumbuh dengan rasa percaya diri
yang lebih tinggi, mampu berpikir solutif, memiliki tanggung jawab yang baik,
dan tidak merepotkan orang di sekitarnya. Anak seperti ini juga jarang merengek
dan tidak egois terhadap keinginannya sendiri.
Dari sinilah dapat disimpulkan:
kemandirian adalah bekal berharga bagi kehidupan sosial anak di masa depan dan karena itu, mendidik anak agar mandiri
sejak dini menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan.







0 comments:
Posting Komentar