Welcome di Mentari Sago, Berita, Artikel dan Sastra baik berupa Cerpen, Puisi dan lain-lain

Berbagi dan Meninspirasi

Menulislah, dengan itu engkau akan meninggalkan jejak jejak sejarah

Tulisan ketika dibaca dan membawa perubahan padanya, akan bermakna besar akhirnya.

Bermimpilah

Jangan biarkan ucapan orang lain menjatuhkan mimpimu. Bungkam mulut mereka dengan prestasimu.

Pendidikan itu mengubah perilaku

Jangan pernah berhenti belajar, karena hidup tak pernah berhenti mengajarkan.

You don’t have to be great to start. But you have to start to be great.

Kamu tidak harus hebat untuk memulai. Tapi Anda harus mulai menjadi hebat.

Manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi banyak orang

Kebaikan sekecil apapun akan mernakna besar bagi yang merasakannya.

Tampilkan postingan dengan label Puisi Aisyah Shofwah Hamidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Aisyah Shofwah Hamidah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Agustus 2026

Puisi Aisyah Shofwah Hamidah "Langit Enggan Disebut Pagi"


aku dengar bumi berucap dengan suara serak

bukan dari kitab-kitab tebal yang diperdebatkan dalam bilik pendingin udara

tapi dari batuk seorang anak yang berulang terbangun menjelang subuh

mencari paru-parunya sendiri di antara kabut yang tak lagi suci

 

Gambar ilustrasi AI

halimun itu pernah kami kenal

dahulu ia turun tipis di atas sungai

membelai pucuk-pucuk rumput

mengantar nelayan pulang dengan doa

yang masih hangat terucap

 

kini ia datang membawa hangus

mengendap di seragam sekolah

terselinap disela jendela

menjadi langit abu-abu yang enggan disebut pagi

anak-anak Riau belajar mengeja kehilangan

sebelum mereka paham merangkai takdir

mengenakan penutup wajah

namun lupa rasa berlari tanpa sesak

 

aku tak sedang murka

“aku hanya letih”

lihat hutan-hutan gambut itu

tubuh tua dikeringkan perlahan

lalu kalian bakar

 

asap merambah ke atas langit

manusia menghitung kerugian angka-angka

tanpa sempat mengira

berapa banyak mimpi anak-anak yang ikut mengabu

 

aku bumi yang tak meminta insan menciumi kakiku

kenanglah aku sebagai rumah

tempat berpijak tanpa takut retak

udaranya dihirup tanpa curiga

menyedihkan bukan ketika api membakar rimba

melainkan manusia terbiasa melihatnya

kabar asap hanya jeda di antara pertunjukan singkat

suara terbatuk menggema tak lagi cukup keras

menggugah nurani orang dewasa

senyap tak ada bisikan

selain patahan-patahan batang

maka di malam kelam ini

 jika kau masih mampu menatap langit

membedakan awan dari asap

tak hanya terucap syukur

ingat bahwa terdapat tanah yang pernah menghitam

ada sungai yang menyimpan pantulan langit kelabu

 

anak-anak yang menulis cita-cita dengan mata pedih dan napas terbatas

kelak mereka bertanya,

"mengapa bumi tak lagi banyak bercerita?"

 

kemarikan telingamu dan dengarkan

di sebalik batuk yang tertahan

dalam hutan gambut menghembuskan bara

bumi masih memanggil nama tak untuk dihukum

bahwa mencintai tanah air tak cukup dengan nyanyian

tapi memastikan anak-anaknya

dapat menghirup takdir tanpa rasa sesak

 

Pekanbaru, Juni 2016

 

Aisyah Shofwah Hamidah
Mahasiswa Universitas Awal Bos 
Fakultas Kesehatan Program Studi Fisioterapi.