Mentari Sago berupa Berita, Karya Fiksi dan Non Fiksi berupa Artikel, Esai, Cerpen, Puisi dan lain-lainnya

Menulis dan Menginspirasi

Selasa, 13 Oktober 2026

Alzheimer dan Fisioterapi: Membantu Lansia Tetap Aktif dan Mandiri

 Tulisan Aisyah Shofwah Hamidah

Definisi Penyakit Alzheimer 

“Pertama, kita akan membahas apa itu penyakit Alzheimer.

Alzheimer adalah penyakit yang menyerang otak dan menyebabkan kemampuan seseorang untuk mengingat, berpikir, memahami, dan mengambil keputusan mengalami penurunan secara bertahap. Penyakit ini berbeda dengan proses penuaan normal karena gangguan yang terjadi dapat semakin berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kita mungkin pernah melihat seorang lansia yang sering lupa meletakkan barang, lupa terhadap percakapan yang baru saja dilakukan, atau bahkan lupa nama orang terdekatnya. Kondisi seperti ini perlu diperhatikan, terutama jika terjadi secara terus-menerus dan semakin memburuk.



Namun, perlu kita pahami bahwa Alzheimer dan demensia bukanlah istilah yang sama. Demensia merupakan istilah umum untuk menggambarkan penurunan kemampuan kognitif yang sampai mengganggu kehidupan sehari-hari, sedangkan Alzheimer adalah salah satu penyakit yang dapat menyebabkan demensia.

Selain itu, penanganan Alzheimer juga memiliki tantangan tersendiri karena pasien mungkin membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang. Beberapa obat dapat menimbulkan efek samping, seperti mual, muntah, diare, gangguan tidur, dan keluhan lainnya. Oleh karena itu, penanganan pasien perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui pengobatan, tetapi juga dengan dukungan keluarga dan tenaga kesehatan, termasuk fisioterapis.”

Etiologi atau Penyebab Penyakit Alzheimer

“Selanjutnya, apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang mengalami Alzheimer?

Sampai saat ini, penyebab pasti Alzheimer belum diketahui sepenuhnya. Namun, penyakit ini diduga terjadi karena kombinasi berbagai faktor, baik dari dalam tubuh maupun dari lingkungan dan gaya hidup seseorang.

Faktor pertama adalah usia. Semakin bertambah usia seseorang, terutama setelah usia 65 tahun, risiko mengalami Alzheimer cenderung meningkat. Meskipun demikian, tidak semua lansia akan mengalami penyakit ini.

Faktor kedua adalah genetik atau keturunan. Seseorang yang memiliki perubahan gen tertentu atau riwayat keluarga dengan Alzheimer dapat mempunyai risiko yang lebih tinggi.

Faktor ketiga berkaitan dengan kesehatan tubuh, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, dan obesitas. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah dan berkontribusi terhadap gangguan fungsi otak.

Selain itu, kebiasaan hidup yang kurang sehat, seperti jarang berolahraga, pola makan tidak seimbang, dan merokok, juga berkaitan dengan peningkatan risiko demensia. Kurangnya aktivitas yang merangsang otak, gangguan tidur berkepanjangan, depresi, cedera kepala, serta kurangnya interaksi sosial juga perlu diperhatikan.

Jadi, Alzheimer bukan disebabkan oleh satu faktor saja. Ada berbagai faktor yang dapat saling berhubungan. Karena itu, menjaga kesehatan tubuh, tetap aktif secara fisik dan mental, serta mempertahankan hubungan sosial merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan otak.”

Patofisiologi Penyakit Alzheimer

“Setelah mengetahui faktor risikonya, sekarang kita akan membahas apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak penderita Alzheimer.

Agar lebih mudah dipahami, kita bisa membayangkan otak sebagai pusat kendali tubuh yang terdiri atas miliaran sel saraf. Sel-sel ini saling berkomunikasi agar kita dapat mengingat, berpikir, berbicara, dan menggerakkan tubuh dengan baik.

Pada penyakit Alzheimer, terjadi penumpukan protein abnormal di otak. Dua proses utama yang sering dijelaskan adalah terbentuknya plak beta-amiloid di luar sel saraf dan penumpukan protein tau yang membentuk neurofibrillary tangles di dalam sel saraf.

Plak beta-amiloid dapat mengganggu fungsi sel saraf, sedangkan protein tau yang mengalami perubahan abnormal dapat mengganggu sistem transportasi di dalam sel. Akibatnya, sel saraf tidak dapat bekerja secara normal dan pada akhirnya dapat mengalami kerusakan atau kematian.

Kerusakan tersebut juga memicu peradangan kronis dan stres oksidatif yang semakin memperburuk kondisi jaringan otak. Salah satu bagian yang terdampak adalah hipokampus, yaitu bagian otak yang berperan penting dalam proses pembentukan dan penyimpanan ingatan.

Itulah sebabnya penderita Alzheimer sering mengalami gangguan daya ingat yang semakin berat dari waktu ke waktu.

Selain itu, berkurangnya neurotransmiter asetilkolin turut berkontribusi terhadap gangguan memori dan kemampuan berpikir. Pada tahap lanjut, gangguan juga dapat melibatkan fungsi motorik dan kontrol postur tubuh.

Artinya, Alzheimer bukan hanya memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengingat, tetapi juga dapat memengaruhi keseimbangan, koordinasi, dan kemampuan berjalan. Di sinilah peran fisioterapi menjadi penting untuk membantu mempertahankan kemampuan gerak dan fungsi tubuh pasien.”

Tanda dan Gejala Penyakit Alzheimer

“Berikutnya, kita akan membahas tanda dan gejala Alzheimer. Gejalanya umumnya muncul secara bertahap dan dapat semakin berat seiring perkembangan penyakit.

Pada stadium ringan atau tahap awal, pasien biasanya mulai sering melupakan kejadian yang baru saja dialami. Pasien juga dapat mengalami kesulitan menemukan kata-kata ketika berbicara, kesulitan merencanakan kegiatan sederhana, serta perubahan suasana hati, seperti mudah cemas atau mulai menarik diri dari lingkungan sosial.

Pada stadium sedang, gangguan tersebut semakin terlihat. Pasien mungkin mulai lupa nama orang terdekat, kebingungan mengenai waktu dan tempat, atau mengalami kesulitan mengenali anggota keluarga. Perilakunya juga dapat berubah, misalnya menjadi mudah gelisah, curiga, atau agresif. Pada tahap ini, pasien mulai membutuhkan bantuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti berpakaian dan makan.

Kemudian, pada stadium berat, ketergantungan pasien terhadap orang lain menjadi semakin tinggi. Pasien dapat kehilangan kemampuan berkomunikasi secara verbal, mengalami gangguan berjalan, kekakuan otot, kesulitan menelan, serta gangguan dalam mengontrol buang air kecil dan buang air besar.

Bagi kita yang mempelajari fisioterapi, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Pada stadium sedang hingga berat, pasien juga dapat mengalami penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan, perubahan postur, dan pola berjalan yang tidak stabil.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko jatuh dan mengurangi kemampuan pasien untuk bergerak secara mandiri. Oleh sebab itu, pemeriksaan fungsi fisik perlu menjadi bagian dari penanganan pasien Alzheimer.”

Dampak Alzheimer terhadap Fungsi Tubuh dan Aktivitas Sehari-hari

“Sekarang, mari kita lihat bagaimana Alzheimer memengaruhi kehidupan sehari-hari pasien.

Ketika mendengar penyakit Alzheimer, sebagian besar orang mungkin langsung berpikir tentang gangguan daya ingat. Padahal, dampaknya tidak hanya pada kemampuan berpikir, tetapi juga pada kondisi fisik dan kemandirian seseorang.

Pertama, pasien dapat mengalami penurunan kekuatan otot atau sarkopenia. Hal ini dapat terjadi karena aktivitas fisik semakin berkurang dan proses penuaan yang berlangsung bersamaan dengan penyakit.

Kedua, pasien dapat mengalami gangguan keseimbangan dan kontrol postur. Akibatnya, pasien lebih mudah kehilangan keseimbangan dan memiliki risiko jatuh yang lebih tinggi.

Ketiga, pola berjalan dapat berubah. Kecepatan berjalan menjadi lebih lambat, panjang langkah memendek, dan langkah menjadi kurang stabil.

Keempat, kurangnya pergerakan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kekakuan otot dan sendi. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi kontraktur, yaitu keterbatasan gerak sendi akibat pemendekan jaringan di sekitarnya.

Selain itu, berkurangnya aktivitas fisik juga dapat menurunkan kebugaran jantung dan paru-paru.

Lalu, bagaimana dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari?

Pasien mungkin mulai kesulitan melakukan aktivitas dasar, seperti mandi, berpakaian, makan, berpindah dari tempat tidur ke kursi, dan menggunakan toilet. Aktivitas yang lebih kompleks, seperti berbelanja, mengelola keuangan, dan menggunakan transportasi umum, juga dapat menjadi semakin sulit.

Semakin berat gangguan yang dialami, semakin besar pula bantuan yang dibutuhkan pasien dari keluarga atau caregiver.

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kualitas hidup pasien, tetapi juga dapat menambah beban fisik, emosional, dan finansial bagi keluarga yang merawatnya.

Oleh karena itu, penanganan Alzheimer perlu dilakukan secara komprehensif. Salah satu tujuannya adalah mempertahankan kemampuan pasien agar tetap dapat melakukan aktivitas sehari-hari seoptimal mungkin. Dalam hal ini, fisioterapi berperan membantu menjaga mobilitas, kekuatan otot, keseimbangan, dan kemampuan fungsional pasien.”

Implikasi Penyakit Alzheimer terhadap Pelaksanaan Fisioterapi

“Bagian terakhir sekaligus menjadi fokus kita sebagai calon tenaga fisioterapi adalah bagaimana penyakit Alzheimer memengaruhi pelaksanaan fisioterapi.

Perlu dipahami bahwa fisioterapi tidak bertujuan menyembuhkan Alzheimer, tetapi membantu mempertahankan fungsi fisik, menjaga mobilitas, mengurangi risiko jatuh, dan mendukung kualitas hidup pasien selama mungkin.

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya.

Pertama, pemeriksaan dan asesmen fisioterapi.

Sebelum memberikan latihan, fisioterapis perlu mengetahui kondisi dan kemampuan pasien terlebih dahulu. Pemeriksaan dapat mencakup kekuatan otot, lingkup gerak sendi, keseimbangan, pola berjalan, serta kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

Untuk menilai keseimbangan dan risiko jatuh, fisioterapis dapat menggunakan instrumen seperti Berg Balance Scale atau Timed Up and Go Test, sesuai kondisi dan kemampuan pasien.

Namun, pemeriksaan pada pasien Alzheimer membutuhkan pendekatan komunikasi yang khusus. Instruksi sebaiknya diberikan menggunakan kalimat sederhana, singkat, jelas, dan dapat diulang jika diperlukan. Dengan demikian, pasien lebih mudah memahami apa yang harus dilakukan.

Kedua, intervensi atau latihan fisioterapi.

Latihan perlu disesuaikan dengan kemampuan, kondisi kesehatan, tingkat gangguan kognitif, dan keamanan pasien.

Latihan penguatan otot dapat diberikan untuk membantu mempertahankan kekuatan dan kemampuan berpindah tempat. Latihan keseimbangan bertujuan mengurangi risiko jatuh, sedangkan latihan berjalan dilakukan untuk mempertahankan kemampuan mobilitas pasien.

Selain itu, aktivitas aerobik ringan hingga sedang dapat dipertimbangkan sesuai toleransi pasien. Latihan lingkup gerak sendi juga penting, terutama bagi pasien yang aktivitasnya sangat terbatas, untuk membantu mempertahankan fleksibilitas dan mencegah kontraktur.

Pada pasien yang mengalami imobilisasi atau tidak mampu bergerak secara mandiri, pengaturan posisi tubuh dan pencegahan luka tekan juga perlu diperhatikan.

Semua latihan tersebut harus dilakukan sesuai hasil asesmen dan dengan pengawasan yang memadai.

Ketiga, edukasi dan keterlibatan caregiver.

Fisioterapi tidak cukup hanya dilakukan ketika pasien datang ke tempat pelayanan kesehatan. Dukungan keluarga atau caregiver juga sangat penting karena pasien membutuhkan bantuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Fisioterapis perlu mengajarkan cara membantu pasien berpindah tempat dengan aman, mendampingi latihan di rumah, serta mengatur lingkungan agar tidak membahayakan pasien.

Sebagai contoh, keluarga dapat membantu mengurangi risiko jatuh dengan memastikan jalur berjalan tidak terhalang barang, menjaga pencahayaan rumah tetap baik, dan mendampingi pasien ketika berjalan jika diperlukan.

Dengan edukasi yang tepat, caregiver dapat membantu pasien menjalani aktivitas dengan lebih aman sekaligus mengurangi risiko cedera bagi pasien maupun orang yang merawatnya.

Keempat, pendekatan multidisiplin.

Penanganan Alzheimer membutuhkan kerja sama berbagai tenaga kesehatan, seperti dokter spesialis saraf, psikiater atau psikolog, ahli gizi, perawat, terapis okupasi, dan fisioterapis.

Setiap profesi memiliki peran yang berbeda, tetapi semuanya bekerja untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu memberikan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.

Dalam tim tersebut, fisioterapis berfokus pada pemeliharaan kemampuan gerak, kekuatan otot, keseimbangan, pola berjalan, dan kemandirian fungsional pasien.

Dengan kerja sama yang baik, penanganan pasien diharapkan dapat berlangsung lebih terarah dan kebutuhan pasien maupun keluarganya dapat diperhatikan secara menyeluruh.”

Penutup Presentasi

“Dari pembahasan ini, dapat kita simpulkan bahwa penyakit Alzheimer merupakan gangguan neurodegeneratif progresif yang tidak hanya memengaruhi daya ingat dan kemampuan berpikir, tetapi juga dapat berdampak pada fungsi fisik, keseimbangan, pola berjalan, serta kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.

Bagi kita di bidang fisioterapi, penting untuk memahami bahwa setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, pemeriksaan harus dilakukan secara menyeluruh, latihan harus disesuaikan dengan kemampuan pasien, dan keselamatan harus menjadi prioritas utama.

Kita juga tidak boleh melupakan peran keluarga dan caregiver karena keberhasilan program fisioterapi sangat dipengaruhi oleh dukungan dan pendampingan yang berkelanjutan.


DAFTAR PUSTAKA

Abubakar, M. B., Sanusi, K. O., Ugusman, A., Mohamed, W., Kamal, H., Ibrahim, N. H., Khoo, C. S., & Kumar, J. (2022). Alzheimer's Disease: An Update and Insights Into Pathophysiology. Frontiers in Aging Neuroscience, 14, 742408. https://doi.org/10.3389/fnagi.2022.742408

Kasprata, H. N., & Harahap, H. S. (2023). Diagnosis dan Tatalaksana Demensia Alzheimer. Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, 10(12), 3471–3479.

Nurmawanti, L., & Sudaryanto, A. (2025). Penatalaksanaan Holistik Penyakit Alzheimer pada Lansia di Panti Sosial. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 7(1), 721–728. https://doi.org/10.37287/jppp.v7i1.5783

Sidarta, E., Sari, T., & Nataprawira, S. M. D. (2025). Patofisiologi, Faktor Risiko dan Peran Inflamasi dalam Perkembangan Penyakit. Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran, 3(1), 235–244. https://doi.org/10.55606/termometer.v3i1.4801

Susanti, N., Siregar, N. H., Ramadhani, N., & Sihite, R. N. (2024). Alzheimer dan Dimensia. Jurnal Kesehatan Tambusai, 5(2), 5736–5743. https://doi.org/10.31004/jkt.v5i2.28471

Susilo, T. E., Anggraeni, A. F., Muliana, K. D. P., Mustofa, M. D., Sila, U. D. C., Zain, S. A., & Pristianto, A. (2023). Edukasi Fisioterapi Kemampuan Fungsional Pada Caregiver di Komunitas Alzheimer Solo Raya. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(3), 196–209. https://doi.org/10.58545/djpm.v2i3.206

Widyantoro, W. (2021). Hubungan Antara Demensia dengan Activity of Daily Living (ADL) pada Lanjut Usia. Indonesian Journal for Health Sciences, 5(1), 77–85.

0 comments:

Posting Komentar