Mentari Sago berupa Berita, Karya Fiksi dan Non Fiksi berupa Artikel, Esai, Cerpen, Puisi dan lain-lainnya

Menulis dan Menginspirasi

Rabu, 26 Agustus 2026

Melawan Kabut Asap Riau: Pendekatan Fisioterapi Respirasi untuk Menjaga Kualitas Hidup

 

Bencana kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali menyelimuti wilayah Riau. Berdasarkan pantauan per tanggal 26 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB, kualitas udara di Riau menempati peringkat yang sangat mengkhawatirkan. Konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di Pekanbaru bertahan pada kategori Tidak Sehat hingga Berbahaya, dengan indeks kualitas udara (AQI) yang sempat menembus angka ekstrem 412 dalam 24 jam terakhir.

foto by Fauzan Agus Santoso

Sebagai mahasiswa dan agen penggerak kesehatan, HIMA Fisioterapi Universitas Awal Bros terpanggil untuk mengedukasi masyarakat. Paparan asap ini bukan sekadar ketidaknyamanan visual, melainkan ancaman langsung bagi sistem kardiopulmonal kita.

Ancaman Partikel PM2.5 pada Paru-Paru

Partikel dari kabut asap sangat kecil sehingga mampu melewati mekanisme pertahanan alami tubuh di hidung dan tenggorokan.

Ketika partikel ini mengendap di alveolus, tubuh akan memberikan respons inflamasi yang memicu produksi lendir berlebih (hipersekresi mukus) dan penyempitan saluran napas (bronkospasme). Pada populasi rentan, hal ini berisiko memicu asma bronkial, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), dan infeksi saluran pernapasan atas.

Intervensi Fisioterapi Respirasi

Fisioterapi tidak hanya berkaitan dengan otot dan tulang, tetapi memiliki cabang kardiopulmonal yang berfokus pada rehabilitasi pernapasan. Berikut adalah pendekatan yang sangat relevan untuk diterapkan di tengah krisis asap ini:

1. Pembersihan Jalan Napas (Chest Physiotherapy)

Paparan asap memicu penumpukan dahak. Teknik postural drainage yang dikombinasikan dengan percussion (tepukan ringan) dan vibration pada area dada dapat membantu mengencerkan dan memobilisasi dahak agar lebih mudah dikeluarkan lewat batuk efektif.

2. Latihan Pernapasan (Breathing Exercises)

Pursed-Lip Breathing: Bernapas perlahan dengan menarik napas lewat hidung dan membuangnya lewat mulut yang dimoncongkan (seperti meniup lilin). Teknik ini membantu menjaga jalan napas tetap terbuka lebih lama dan mengurangi kerja otot pernapasan yang kelelahan akibat sesak.

Diaphragmatic Breathing: Melatih pernapasan perut untuk mengoptimalkan pengembangan kapasitas paru-paru bagian bawah yang sering kali tidak maksimal saat seseorang sedang sesak atau panik.

3. Mobilisasi Sangkar Thoraks

Latihan gerakan bahu dan lengan yang disinkronkan dengan pernapasan. Gerakan ini bertujuan untuk meregangkan otot-otot bantu pernapasan yang menegang akibat batuk terus-menerus, serta meningkatkan ekspansi rongga dada.

Di tengah kondisi udara yang memburuk, masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker N95. Apabila mengalami keluhan sesak napas yang disertai penumpukan dahak intens, pendekatan fisioterapi respirasi dapat menjadi intervensi non-farmakologis yang sangat efektif untuk memulihkan fungsi paru-paru.


ditulis oleh : 
Fauzan Agus Santoso 
Ketua Himpunan Mahasiswa Fisioterapi, Universitas Awal Bros


0 comments:

Posting Komentar