Welcome di Mentari Sago, kumpulan artikel pendidikan dan sastra baik berupa cerpen, puisi dan lain-lain

Rabu, 11 Februari 2026

Generasi Z dan Lagu Barat: Pentingnya Literasi dalam Memaknai Lagu

 


Fenomena Gen Z yang gemar mendengarkan lagu-lagu barat kini menjadi pemandangan sehari-hari. Mereka hafal lirik Bruno Mars, Justin Bieber, Joji, One Direction, hingga Beyoncé, bahkan menjadikannya soundtrack di media sosial, WA, Instagram, Fb dan juga Tiktok.. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah mereka benar-benar memahami makna di balik lirik yang dinyanyikan?

Lebih ngenes lagi, beberapa remaja SMA  disuatu sekolah mutar lagu itu. bahkan di bebrapa tempat mahasiswa juga  terlena dengan musik yang indah, namun liriknya menyesatkan? ini sangat berbahaya, karena secara tidak langsung membawanya ke alam bawa sadar mengiring ke hal-hal negatif. Para pelajra dengan asyiknya nongrong dengan temannya sambil menikmati lirik demi lirik lagu yang di dengarnya. 

Kebanyakan generasi muda hanya menikmati musik dari sisi melodi dan beat yang catchy, tanpa menggali lebih dalam pesan yang terkandung dalam lirik. Ambil contoh "No Control" dari One Direction yang secara eksplisit menggambarkan hasrat dan ketidakmampuan mengendalikan diri dalam hubungan romantis. Atau lagu-lagu Joji yang sarat dengan tema kesedihan, kehampaan, dan hubungan toxic. Bruno Mars dengan " Versece On The Floor" " menggunakan metafora seksual yang tersembunyi di balik melodi yang riang. Sementara BeyoncĂ©  dengan Drunk In Love nya juga kerap mengangkat tema pemberdayaan wanita yang terkadang diwarnai perspektif feminisme barat yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai timur.

 Konsumsi Tanpa Sadar sangat Berbahaya

Ketika lagu dikonsumsi tanpa pemahaman, lirik-lirik tertentu bisa tertanam dalam alam bawah sadar dan mempengaruhi pola pikir. Lagu-lagu Justin Bieber di era awalnya seperti "Boyfriend" dan "As Long As You Love Me" menggambarkan hubungan romantis dengan standar yang sangat berbeda dari ajaran agama tentang ta'aruf dan pernikahan. Tanpa disadari, penikmat musik bisa terpapar ideologi atau nilai-nilai yang bertentangan dengan prinsip hidup mereka. Ini seperti makan tanpa mengetahui kandungan makanan—bisa jadi yang masuk justru meracuni pikiran.

Literasi sebagai Benteng

Menumbuhkan literasi adalah kunci utama. Gen Z perlu diajak untuk tidak sekadar mendengar, tetapi juga memahami dan mengkritisi. Literasi bahasa membantu mereka menerjemahkan dan mencerna makna sesungguhnya. Ketika memahami bahwa lagu favorit mereka sebenarnya berbicara tentang hubungan di luar nikah, konsumsi alkohol, atau gaya hidup materialistis, mereka bisa membuat keputusan yang lebih bijak—apakah tetap mendengarkan dengan kesadaran penuh, atau memilih alternatif yang lebih positif.

Aqidah sebagai Pondasi

Di samping literasi, penguatan aqidah menjadi benteng terkuat. Dengan pemahaman agama yang mendalam, seseorang memiliki filter alami untuk menilai baik-buruk sebuah konten. Aqidah yang kokoh membuat seseorang tidak mudah terbawa arus, tetapi tetap kritis dan selektif. Mereka bisa menikmati seni tanpa kehilangan identitas dan prinsip dalam mencari jati diri.  Remaja adalah masa dimana anak menemukan identitas dengan hal hal yang baik.

Musik adalah seni yang indah, namun penikmatannya perlu disertai kesadaran. Apa jenis lagu yang pantas dan layak untuk dinikmati.  Mari ajak generasi muda untuk tidak hanya "play and sing", tetapi juga "understand and reflect"—menjadikan musik sebagai media yang mencerahkan, bukan justru menyesatkan.

So... mari berliterasi dengan cerdas. 

0 komentar:

Posting Komentar