Pekanbaru__Di senja tahun 2025,
ketika matahari mulai beranjak meninggalkan cakrawala, lembayung jingga
mengiringi sebuah kisah, momen
bersejarah terukir di Lapangan Tenayan Raya. Hari itu bukan sekadar upacara
formal dan penuh protokol, melainkan sebuah perayaan kemanusiaan—di mana ribuan
mimpi yang nyata dalam dekapan hangat.
Lima ribu seratus tiga
puluh tujuh insan. Bukan sekadar angka dalam catatan administrasi negara.
Mereka adalah ayah yang selama ini dengan mengendarai motor tua di pagi buta untuk mengajar
anak-anak, ibu yang tetap sabar mendampingi lansia di puskesmas meski gaji
belum pasti, pemuda yang memilih mengabdi ketimbang mengejar gemerlap
kota—mereka adalah pahlawan sunyi yang selama ini bekerja tanpa pengakuan
resmi.
Pelantikan PPPK Paruh
Waktu terbanyak di Provinsi Riau ini bukan hanya soal mensahkan status
kepegawaian. Ini tentang mengembalikan martabat kepada mereka yang telah
memberikan waktu, tenaga, dan hatinya untuk Pekanbaru. Ini tentang melihat air
mata kebahagiaan mengalir di pipi orang-orang yang selama bertahun-tahun
bertanya, "Kapan perjuangan kami diakui?"
Dan jawaban itu datang.
Di lapangan yang sama yang mungkin pernah mereka lewati dengan langkah gontai
setelah hari kerja yang panjang, kini mereka berdiri dengan kepala tegak.
Senyum lega yang terpancar dari wajah ribuan orang itu lebih berharga dari
apapun—karena di balik setiap senyuman, ada cerita panjang tentang ketabahan,
tentang tidak menyerah, tentang terus percaya bahwa pengabdian yang tulus tak
akan sia-sia.
Apresiasi pun mengalir,
bukan hanya dalam bentuk status resmi. Hadiah umroh untuk mereka yang paling
lama mengabdi—perjalanan spiritual ke Tanah Suci—adalah simbol penghormatan
tertinggi. Dan motor sebagai penyemangat, bukan sekadar kendaraan, melainkan
wahana untuk melanjutkan perjalanan pengabdian dengan lebih bersemangat.
"Status boleh paruh
waktu, tapi semangat pengabdian harus penuh waktu." Kalimat sederhana yang
sarat makna dari seorang Walikota yang mampu membakar semangat mereka. Karena
sejatinya, pengabdian sejati tak diukur dari berapa jam kita bekerja,
melainkan seberapa dalam kita menanamkan hati dalam setiap pekerjaan. Paruh
waktu dalam administrasi, namun penuh waktu dalam keikhlasan.
Dan di tengah hiruk-pikuk
perayaan, mungkin ada yang diam-diam mengusap mata. Bukan karena sedih, tapi
karena terharu. Karena akhirnya, setelah sekian lama, jerih payah mereka
diakui. Pengabdian mereka dihargai. Dan nama mereka kini tercatat dalam
sejarah—bukan sebagai pegawai paruh waktu, melainkan sebagai pengabdi penuh
hati.
Selamat untuk 5.137 jiwa yang
kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar Pemko Pekanbaru. Pengukuhan ini
bukan akhir melainkan awal dari pengabdian
yang bermakna, yang penuh dedikasi, integritas dan kejujuran. Mari bersama
menyongsong masa depan Pekanbaru yang berbudaya, maju dan sejahtera.
Di akhir saya tulisankan sebuah pesan :
"Pengabdian sejati
bukan diukur dari waktu, melainkan dari jejak kebaikan yang tertinggal di
setiap langkah.".







Terharu kak, sungguh tulisan yg indah
BalasHapus