Welcome di Mentari Sago, kumpulan artikel pendidikan dan sastra baik berupa cerpen, puisi dan lain-lain

Rabu, 31 Desember 2025

5.137 Mimpi yang Akhirnya Bersemi di Senja Tenayan Raya

 

 

Pekanbaru__Di senja tahun 2025, ketika matahari mulai beranjak meninggalkan cakrawala, lembayung jingga mengiringi sebuah kisah,  momen bersejarah terukir di Lapangan Tenayan Raya. Hari itu bukan sekadar upacara formal dan penuh protokol, melainkan sebuah perayaan kemanusiaan—di mana ribuan mimpi yang nyata dalam dekapan hangat.

Lima ribu seratus tiga puluh tujuh insan. Bukan sekadar angka dalam catatan administrasi negara. Mereka adalah ayah yang selama ini dengan mengendarai motor tua  di pagi buta untuk mengajar anak-anak, ibu yang tetap sabar mendampingi lansia di puskesmas meski gaji belum pasti, pemuda yang memilih mengabdi ketimbang mengejar gemerlap kota—mereka adalah pahlawan sunyi yang selama ini bekerja tanpa pengakuan resmi.

Doc  Agung Nugroho


Pelantikan PPPK Paruh Waktu terbanyak di Provinsi Riau ini bukan hanya soal mensahkan status kepegawaian. Ini tentang mengembalikan martabat kepada mereka yang telah memberikan waktu, tenaga, dan hatinya untuk Pekanbaru. Ini tentang melihat air mata kebahagiaan mengalir di pipi orang-orang yang selama bertahun-tahun bertanya, "Kapan perjuangan kami diakui?"

Dan jawaban itu datang. Di lapangan yang sama yang mungkin pernah mereka lewati dengan langkah gontai setelah hari kerja yang panjang, kini mereka berdiri dengan kepala tegak. Senyum lega yang terpancar dari wajah ribuan orang itu lebih berharga dari apapun—karena di balik setiap senyuman, ada cerita panjang tentang ketabahan, tentang tidak menyerah, tentang terus percaya bahwa pengabdian yang tulus tak akan sia-sia.

Apresiasi pun mengalir, bukan hanya dalam bentuk status resmi. Hadiah umroh untuk mereka yang paling lama mengabdi—perjalanan spiritual ke Tanah Suci—adalah simbol penghormatan tertinggi. Dan motor sebagai penyemangat, bukan sekadar kendaraan, melainkan wahana untuk melanjutkan perjalanan pengabdian dengan lebih bersemangat.

"Status boleh paruh waktu, tapi semangat pengabdian harus penuh waktu." Kalimat sederhana yang sarat makna dari seorang Walikota yang mampu membakar semangat mereka. Karena sejatinya, pengabdian sejati tak diukur dari berapa jam kita bekerja, melainkan seberapa dalam kita menanamkan hati dalam setiap pekerjaan. Paruh waktu dalam administrasi, namun penuh waktu dalam keikhlasan.

Dan di tengah hiruk-pikuk perayaan, mungkin ada yang diam-diam mengusap mata. Bukan karena sedih, tapi karena terharu. Karena akhirnya, setelah sekian lama, jerih payah mereka diakui. Pengabdian mereka dihargai. Dan nama mereka kini tercatat dalam sejarah—bukan sebagai pegawai paruh waktu, melainkan sebagai pengabdi penuh hati.

Selamat untuk 5.137 jiwa yang kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar Pemko Pekanbaru. Pengukuhan ini bukan akhir  melainkan awal dari pengabdian yang bermakna, yang penuh dedikasi, integritas dan kejujuran. Mari bersama menyongsong masa depan Pekanbaru yang berbudaya, maju dan sejahtera.

Di akhir saya tulisankan sebuah pesan :

"Pengabdian sejati bukan diukur dari waktu, melainkan dari jejak kebaikan yang tertinggal di setiap langkah.".

 

1 komentar: